NU Jangan Dijadikan Pendorong Mobil Mogok

Sabtu, 03 Februari 20180 komentar

(foto ; nt)

Kabardaerahku ( Brebes )
Diusia 92 tahun, Nahdlatul Ulama masih terkesima dunia politik praktis. Terbukti aroma tersebut tercium banyaknya Nahdliyyin (warga NU) yang nyemplung menjadi politikus. Dan tak tanggung tanggung menjadi calon kepala daerah bahkan calon Presiden. 

"Kegamangan tersebut, membuat NU tidak fokus dalam pengkaderan dan mabarot (sosial kemanusiaan)," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Modern Al Falah Jatirokeh, Songgom Brebes KH Nasruddin saat berbincang di pondoknya, Jumat (2/2).
Kaji Nas, demikian sapaan akrabnya,mengaku bangga dengan kiprah NU yang selalu tampil digaris terdepan ketika ada kelompok yang berupaya merongrong Pancasila, yang anti NKRI. 

Karena langkah NU tersebut menguntungkan banyak pihak, tetapi kalau selalu larut dalam kiprah tersebut, NU akan dijadikan musuh bersama bagi pihak pihak yang anti NKRI. 
"Mereka telah menyusun kekuatan dan melemahkan NU dengan cara menarik anak anak keturunan NU masuk ke dalam kelompoknya, Wahabi," ujarnya.

Kaji Nas mensinyalir sudah ribuan anak dari keluarga NU yang telah tergabung dengan kelompok mereka, kaum Wahabi.

Untuk itu, kata Kaji Nas, mengingatkan agar garapan utama bagi NU harus mempertahankan anak anak dari keluarga NU agar tetap berkhidmat dengan NU. Caranya, dengan pengkaderan sejak dini melalui dunia pendidikan. 

"NU masih kalah langkah dalam pengkaderan dini, di dunia pendidikan," ungkap Nasrudin yang juga mantan anggota DPR RI.

Dia mengevaluasi, kegiatan sosial dan mabarot seperti kesehatan, penanggulangan kemiskinan dan pendidikan juga belum digarap maksimal. Jangan sampai NU besar hanya wadahnya saja tetapi tak berisi, tak berkualitas karena tidak peka terhadap persoalan persoalan kemanusiaan, persoalan umat. 
“Ciptakan konsolidasi yang massif untuk generasi emas NU, jelang usia se abad NU ini agar NU makin kuat di dalam kebesarannya,” ajaknya.

Dia menyayangkan dengan trend yang digarap NU, malah politik. Pengurus maupun personal NU banyak yang terkesima dengan Politik. 
"Sayang sekali kalau NU selalu dijadikan pendorong mobil mogok yang selanjutnya ditinggal begitu saja, gigih mengunggulkan calon Kepala Daerah misalnya, tetapi hanya dijadikan tukang dorong saja,” ungkitnya mengingatkan.NU tetap berpolitik, lanjutnya, namun berpolitik kebangsaan-politik kenegaraan, bukan politik praktis. NU berhikmat untuk berpolitik kebangsaan dengan tujuan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan umat. 
“Berpolitik yang tidak hanya menguntungkan orang perorang, apalagi golongan tertentu saja,” ujarnya.
Menurut dia, Warga NU atau Nahdliyin wajib terlibat dalam pilkada karena menyangkut politik kebangsaan. 
Untung saja, di Jateng calon kepala daerah yang maju semuanya ada yang berasal dari kader NU. Mudah-mudahan para calon tersebut bukan mobil yang rusak, yang hanya memanfaatkan Nahdliyin, yang butuh dorongan suara belaka. 
“Ingatlah, keterlibatan Nahdliyin dalam Pilkada, untuk mewujudkan kesejateraan umat,” pungkasnya. (ws / Pur )


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : | Creating Website | Boy | Kabardaerahku | Pusat Promosi
Copyright © 2011. Kabar Daerahku : Terkini - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by Kabardaerahku
Proudly powered by BanyumasMedia