Tedak Siten Tradisi Lama Yang Masih Bertahan di Jaman Now

Senin, 12 Maret 20180 komentar

Prosesi naik tangga Arjuna ( foto : Pur )

Kabardaerahku ( Brebes )
Meski memasuki jaman Now , jaman tehnologi modern namun budaya tradisi warisan nenek moyang kita jaman dahulu masih bisa kita jumpai dalam kehidupan masyarakat jawa maupun suku yang lain.

Salah satunya tradisi Tedak Siten ,  Tedak artinya turun sedangkan Siten berarti tanah,  tradisi Tedak Siten atau lebih dikenal juga sebagai upacara Turun Tanah    

Tedak Siten merupakan budaya warisan leluhur masyarakat Jawa untuk bayi yang berusia sekitar tujuh atau delapan bulan yang baru belajar berjalan dan juga sebagai rangkaian acara yang bertujuan agar anak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Upacara tradisi warisan leluhur Tedak Siten ternyata juga dilestarikan keluarga Anggota DPR RI  H. Agung Widyantoro SH. M.Si, pada Minggu 11 Maret 2018.  Sekaligus sebagai ungkapan rasa kebahagiaan memiliki dua cucu kembar Deandra Putri Dewantara dan Aryendra Putra Dewantara yang sudah mulai menapak belajar berjalan.   

"Bagi para leluhur, adat budaya ini dilaksanakan sebagai penghormatan kepada bumi tempat anak mulai belajar menginjakkan kakinya ke tanah. 
Dalam istilah jawa disebut tedak siten, dan bagi kami ini, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa " papar H. Agung Widyantoro usai acara dikediamanya.

Acara yang dihadiri para relawan BSA  Bala Sejati Agung  cukup meriah mengingat prosesi upacara berjalan lengkap. Dimulai usai acara selamatan dilanjutkan dengan prosesi menapakkan kaki bayi di atas jadah 7 warna yang disusul prosesi naik tangga. 

Tangga tradisional yang dibuat dari tebu jenis ‘arjuna’ dengan dihiasi kertas warna-warni melambangkan harapan agar si bayi memiliki sifat  kesatria si Arjuna (tokoh pewayangan yang dikenal bertanggungjawab dan tangguh). 

Sedangkan tangga yang terbuat dari tebu  dalam bahasa Jawa kata tersebut  merupakan kependekan dari ‘antebing kalbu’ yang bermakna kemantaban hati.  

Prosesi selanjutnya prosesi di mana bayi dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah dihias dengan kertas berwarna warni. Prosesi ini menyimbolkan kelak anak akan dihadapkan pada berbagai macam jenis pekerjaan.

Bayi dihadapkan dengan beberapa barang untuk dipilih seperti cincin, uang, alat tulis,cermin, buku, dan lain lain  Kemudian dibiarkan  mengambil salah satu dari barang tersebut. 
Barang yang dipilihnya merupakan gambaran hobi dan masa depannya kelak.

Proses selanjutnya Bunda menebarkan beras kuning (beras yang dicampur dengan parutan kunir) yang telah diisi uang logam untuk di perebutkan anak-anak yang diundang datang . Ritual ini dimaksudkan agar anak dikemudian hari  memiliki sifat dermawan.(Boypurwo )
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : | Creating Website | Boy | Kabardaerahku | Pusat Promosi
Copyright © 2011. Kabar Daerahku : Terkini - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by Kabardaerahku
Proudly powered by BanyumasMedia